Mukti-smansa Weblog
Mukti-Learing English Conner

Mei
20

Setelah “Wira-wiri” mencoba dan mencari (browsing) kesana-kemari, akhirnya saya dapat hasil. Saya menemukan buku 3 tentang Pedoman Penyusuna Portofolio dan juga File Buku 8 tentang Pedoman Penyusunan Portofolio Khusus Guru yang Diangkat dalam Jabatan Pengawas Tahun 2009, yang didalamnya memuat tentang: Penjelasan Komponen Portofolio,  Rubrik (Instrumen)  Portofolio, Ketentuan Kelulusan, dan Pemberian Sertifikat Langsung.

Mudah-mudahan bermanfaat untukl para Browser yang akan sertifikasi

Jika anda membutuhkannya silahkan klik pada tautan (link) berikut;

1. Pedoman Penyusuna Portofolio 2009  (Klik disini)

2.Pedoman Penyusunan Portofolio Khusus Guru yang Diangkat dalam Jabatan Pengawas Tahun 2009  (Klik disini)


Apr
13

CERITA SUFI ASY-SYEIKH ABDUL QODIR AL JAILANI RA.

1. Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:
Pada suatu hari, di tahun 537 Hijrah, seorang lelaki dari kota Baghdad (dikatakan oleh sesetengah perawi bahawa lelaki itu bernama Abu Sa‘id ‘Abdullah ibn Ahmad ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Baghdadi) datang bertemu asy-Syaikh Jilani, dan berkata, bahwa dia mempunyai seorang anak perempuan  cantik berumur enam belas tahun bernama Fatimah. Anaknya tersebut telah diculik (diterbangkan) dari atas anjung rumahnya oleh seorang jin.
Maka asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun menyuruh lelaki itu pergi pada malam hari itu, ke suatu tempat bekas rumah roboh, di satu kawasan lama di kota Baghdad bernama al-Karkh.

“Carilah bonggol yang kelima, dan duduklah di situ. Kemudian, gariskan satu bulatan sekelilingmu di atas tanah. Kala engkau membuat garisan, ucapkanlah “Bismillah, dan di atas niat asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani ” Apabila malam telah gelap,  akan datang kepadamu beberapa kumpulan jin, dengan berbagai rupa dan bentuk. Janganlah engkau takut. Apabila waktu hampir terbit fajar, akan datang pula raja jin dengan segala bala tentaranya yang besar. Dia akan bertanya hajatmu. Katakan kepadanya bahwa aku telah menyuruh engkau datang bertemu dengannya. Kemudian ceritakanlah kepadanya tentang kejadian yang telah menimpa anak perempuanmu itu.”

Lelaki itu pun pergi ke tempat tersebut dan melaksanakan arahan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani itu. Beberapa saat kemudian datanglah jin-jin yang mencoba menakut-nakuti, tetapi jin-jin itu tidak kuasa melintasi garis bulatan itu. Jin-jin itu datang silih berganti, kelompok demi kelompok. Dan akhirnya, datanglah sang raja jin yang sedang menunggang seekor kuda beserta bala tentaranya yang besar dan hebat.

Raja jin itu pun memberhentikan kudanya di luar garis bulatan tadi dan bertanya:  “Wahai manusia, apakah hajatmu?” Lelaki itu menjawab, “Aku telah disuruh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani untuk bertemu denganmu.”

Begitu mendengar nama asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani diucapkan, sontak raja jin tersebut turun dari kudanya seraya mencium bumi. Raja jin itu pun kemudian duduk di atas bumi, diikuti oleh seluruh bala tentaranyanya. Kemudian, raja jin itu pun bertanya tentang  masalah lelaki tersebut. Lelaki itu pun menceritakan kisah anak perempuannya yang diculik oleh seorang jin. Setelah mendengar cerita lelaki itu, raja jin itu pun sontak marah seraya memerintahkan kepada bala tentaanya agar mencari si jin yang bersalah itu. Beberapa waktu kemudian, dibawalah ke hadapan raja jin tersebut, seorang jin lelaki dari negara Cina bersama dengan anak manusia perempuan yang telah diculiknya.

Raja jin itu pun bertanya, “Mengapa engkau sambar anak perampuan manusia ini? Tidakkah engkau tahu, dia ini berada di bawah naungan al-Quthb?”
Jin lelaki dari negara Cina itu berkata, bahwa dia telah jatuh cinta dengan anak perempuan manusia itu. Raja jin itu memerintahkan kepadanya agar dipulangkan gadis itu kepada bapanya, dan jin dari negara Cina itu dikenakan hukuman pancung kepala.
Lelaki itu pun mengungkapkan rasa takjubnya kepada raja jin atas  segala perbuatannya, yang sangat takut dan patuh kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani.

Raja jin itu berkata pula, “Sudah tentu, karena asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani bisa melihat dari rumahnya semua kelakuan jin-jin yang jahat. Dan mereka semua sedang berada di sejauh-jauh tempat di atas bumi, karena telah lari dari sebab kehebatannya. Allah Ta’ala telah menjadikan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani bukan saja al-Qutb bagi umat manusia, bahkan juga ke atas seluruh bangsa jin.”

2. Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:
Pada suatu hari, istri-istri asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani bertemu dengannya dan berkata, “Wahai suami kami yang terhormat, anak lelaki kecil kita telah meninggal dunia. Namun kami tidak melihat setitik air mata pun yang mengalir dari mata kekanda dan tidak pula kekanda menunjukkan tanda kesedihan. Tidakkah kekanda menyimpan rasa belas kasihan terhadap anak lelaki kita, yang merupakan sebagian darah daging kekanda sendiri? Kami semua sedang dirundung kesedihan, namun kekanda masih juga meneruskan pekerjaan biasa kekanda, seolah-olah tiada sesuatu pun yang telah berlaku. Kekanda adalah pemimpin dan pelindung kami di dunia dan di akhirat. Tetapi jika hati kekanda telah menjadi keras sehingga tiada lagi menyimpan rasa belas kasihan, bagaimana kami dapat bergantung kepada kekanda di Hari Pembalasan kelak?”

Maka berkatalah asy-Sayikh Abdul Qodir al-Jilani “Wahai isteri-isteriku yang tercinta! Janganlah kamu semua menyangka hatiku ini keras. Aku menyimpan rasa belas kasihan di hatiku terhadap seluruh makhluk, sampai terhadap orang-orang kafir dan juga terhadap anjing-anjing yang menggigitku. Aku berdoa kepada Allah agar anjing-anjing itu berhenti menggigit, bukan karena aku takut digigit, tetapi aku takut nanti manusia lain akan melontar anjing-anjing itu dengan batu. Tidakkah kamu mengetahui bahwa aku mewarisi sifat belas kasihan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang telah diutus Allah sebagai rahmat untuk sekelian alam?”

Maka wanita-wanita itu pun berkata pula, “Kalau benar kekanda mempunyai rasa belas kasihan terhadap seluruh makhluk Allah, sampai kepada anjing-anjing yang menggigit kekanda, kenapa kekanda tidak menunjukkan rasa sedih atas kehilangan anak lelaki kita yang telah meninggal ini?”

Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun menjawab, “Wahai isteri-isteriku yang sedang berdukacita, kamu semua menangis karena kamu semua merasa telah berpisah daripada anak lelaki kita yang kamu semua sayangi. Tetapi aku sentiasa bersama dengan orang-orang yang aku sayangi. Kamu semua telah melihat anak lelaki kita di dalam satu ilusi yang disebut dunia. Kini, dia telah meninggalkannya lalu berpindah ke satu tempat yang lain. Allah telah berfirman (Surat al-adid, ayat 20) “dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah satu ilusi saja.” Memang dunia ini adalah satu ilusi, untuk mereka yang sedang terlena. Tetapi aku tidak terlena – aku melihat dan waspada. Aku telah melihat anak lelaki kita sedang berada di dalam bulatan masa, dan kini dia telah keluar darinya. Namun aku masih dapat melihatnya. Dia kini berada di sisiku. Dia sedang bermain-main di sekelilingku, sebagaimana yang pernah dia lakukan pada masa dahulu. Sesungguhnya, jika seseorang itu dapat melihat Kebenaran melalui mata hatinya, sama dengan yang dilihatnya masih hidup ataupun sudah mati, maka Kebenaran itu tetap tidak akan hilang.”

3. Telah bercerita asy-Syaikh Abduh Hamad ibn Hammam:
Pada mulanya aku memang tidak suka kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Walaupun aku merupakan seorang saudagar yang paling kaya di kota Baghdad waktu itu, aku tidak pernah merasa tenteram ataupun berpuas hati.
Pada suatu hari, aku telah pergi menunaikan solat Jum’at. Ketika itu, aku tidak mempercayai tentang cerita-cerita karomah yang dikaitkan pada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Sesampainya aku di masjid itu, aku dapati beliau telah ramai dengan jamaah. Aku mencari tempat yang tidak terlalu ramai, dan kudapati betul-betul di hadapan mimbar.

Di kala itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani baru saja mulai untuk khutbah Jumaat. Ada beberapa perkara yang disentuh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani yang telah menyinggung perasaanku. Tiba-tiba, aku terasa hendak buang air besar. Untuk keluar dari masjid itu, memang sukar dan agak mustahil. Dan aku dihantui perasaan gelisah dan malu,  aku khawatir dan takut buang air besar di sana di depan orang banyak. Dan kemarahanku terhadap asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun bertambah dan memuncak.

Pada saat itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani turun dari atas mimbar itu dan berdiri di hadapanku. Sambil beliau terus memberikan khutbah, beliau menutup tubuhku dengan jubahnya. Tiba-tiba aku sedang berada di satu tempat yang lain, yakni di satu lembah hijau yang sangat indah. Aku lihat sebuah anak sungai sedang mengalir perlahan di situ dan keadaan sekelilingnya sunyi sepi, tanpa kehadiran seorang manusia.
Aku pergi membuang air besar. Setelah selesai, aku mengambil wudlu. Ketika aku sedang berniat untuk pergi bersolat, dan tiba-tiba diriku telah berada ditempat semula di bawah jubah asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Dia telah mengangkat jubahnya dan menaiki kembali tangga mimbar itu.
Aku sungguh-sungguh merasa terkejut. Bukan karena perutku sudah merasa lega, tetapi juga keadaan hatiku. Segala perasaan marah, ketidakpuasan hati, dan perasaan-perasaan jahat yang lain, semuanya telah hilang.

Selepas sembahyang Jum’at berakhir, aku pun pulang ke rumah. Di dalam perjalanan, aku menyadari bahwa kunci rumahku telah hilang. Dan aku kembali ke masjid untuk mencarinya. Begitu lama aku mencari, tetapi tidak aku temukan, terpaksa aku menyuruh tukang kunci untuk membuat kunci yang baru.

Pada keesokan harinya, aku telah meninggalkan Baghdad dengan rombonganku karena urusan perniagaan. Tiga hari kemudian, kami telah melewati satu lembah yang sangat indah. Seolah-olah ada satu kuasa ajaib yang telah menarikku untuk pergi ke sebuah anak sungai. Barulah aku teringat bahwa aku pernah pergi ke sana untuk buang air besar, beberapa hari sebelum itu. Aku mandi di anak sungai itu. Ketika aku sedang mengambil jubahku, aku telah temukan kembali kunciku, yang rupa-rupanya telah tertinggal dan telah tersangkut pada sebatang dahan di situ.
Setelah aku sampai di Baghdad, aku menemui asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani dan menjadi anak muridnya.

4. Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:
Pada suatu hari, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani berjalan-jalan dengan beberapa muridnya di padang pasir. Waktu itu hari sangat panas, dan mereka sedang berpuasa. Oleh karena itu mereka merasa letih dan dahaga.
Tiba-tiba, sekumpulan awan muncul, yang melindungi mereka dari panas terik matahari. Setelah itu, sebatang pohon kurma dan sebuah kolam air muncul di hadapan mereka. Mereka terpesona. Kemudian satu cahaya besar yang berkilauan,  muncul dari celah awan di hadapan mereka dan terdengaranlah satu suara dari dalamnya yang telah berkata, “Wahai ‘Abdul Qadir, akulah Tuhanmu. Makan dan minumlah, karena pada hari ini, telah aku halalkan untuk engkau segala apa yang telah aku haramkan untuk orang-orang lain.”

Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun melihat ke arah cahaya itu dan berkata, “Aku berlindung kapada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”
Tiba-tiba, cahaya, pohon kurma dan kolam itu semuanya hilang dari pandangan mata. Maka kelihatanlah Iblis di hadapan mereka dengan bentuk rupanya yang asli.
Iblis bertanya, “Bagaimanakah engkau dapat mengetahui bahwa itu sebenarnya adalah aku?”
Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani  menjawab, “Syariat itu sudah sempurna, dan tidak akan berubah sampai Hari Kiamat. Allah tidak akan mengubah yang haram kepada yang halal, walaupun untuk orang-orang yang menjadi pilihanNya (waliNya).”

Maka Iblis pun berkata lagi untuk menguji asy-Sayikh Abdul Qodir al-Jilani “Aku telah mampu menipu 70 kaum daripada golongan as-salikin (yakni orang-orang yang menempuh jalan kerohanian) dengan cara ini. Ilmu yang engkau miliki lebih luas daripada ilmu mereka. Apakah hanya ini jumlah pengikutmu? Sudah sepatutnya semua penduduk bumi ini menjadi pengikutmu, karena ilmumu menyamai ilmu para nabi.”

Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani menjawab, “Aku berlindung dengan Allah Yang Maha Mendengar, Yang Maha Mengetahui, daripada engkau. Bukanlah karena ilmuku aku terselamat, tetapi karena rahmat daripada Allah, Pengatur sekelian alam.”

dikutip dari : http://ponpesalfithrahgp.wordpress.com/

Apr
13

Recognize a verb when you see one.

Verbs are a necessary component of all sentences. Verbs have two important functions: Some verbs put static objects into motion while other verbs help to clarify the objects in meaningful ways. Look at the examples below:

My grumpy old English teacher smiled at the plate of cold meatloaf.

My grumpy old English teacher = static object; smiled = verb.

The daredevil cockroach splashed into Sara’s soup.

The daredevil cockroach = static object; splashed = verb.

Theo’s overworked computer exploded in a spray of sparks.

Theo’s overworked computer = static object; exploded = verb.

The curious toddler popped a grasshopper into her mouth.

The curious toddler = static object; popped = verb.

Francisco’s comic book collection is worth $20,000.00.

Francisco’s comic book collection = static object; is = verb.

The important thing to remember is that every subject in a sentence must have a verb. Otherwise, you will have written a fragment, a major writing error.

Remember to consider word function when you are looking for a verb.

Many words in English have more than one function. Sometimes a word is a subject, sometimes a verb, sometimes a modifier. As a result, you must often analyze the job a word is doing in the sentence. Look at these two examples:

Potato chips crunch too loudly to eat during an exam.

The crunch of the potato chips drew the angry glance of Professor Orsini to our corner of the room.

Crunch is something that we can do. We can crunch cockroaches under our shoes. We can crunch popcorn during a movie. We can crunch numbers for a math class. In the first sentence, then, crunch is what the potato chips do, so we can call it a verb.

Even though crunch is often a verb, it can also be a noun. The crunch of the potato chips, for example, is a thing, a sound that we can hear. You therefore need to analyze the function that a word provides in a sentence before you determine what grammatical name to give that word.

Know an action verb when you see one.

Dance! Sing! Paint! Giggle! Chew! What are these words doing? They are expressing action, something that a person, animal, force of nature, or thing can do. As a result, words like these are called action verbs. Look at the examples below:

Clyde sneezes with the force of a tornado.

Sneezing is something that Clyde can do.

Because of the spoiled mayonnaise, Ricky vomited potato salad all day.

Vomiting is something that Ricky can do—although he might not enjoy it.

Sylvia always winks at cute guys driving hot cars.

Winking is something that Sylvia can do.

The telephone rang with shrill, annoying cries.

Ringing is something that the telephone can do.

Thunder boomed in the distance, sending my poor dog scrambling under the bed.

Booming is something that thunder can do.

If you are unsure whether a sentence contains an action verb or not, look at every word in the sentence and ask yourself, “Is this something that a person or thing can do?” Take this sentence, for example:

During the summer, my poodle constantly pants and drools.

Can you during? Is during something you can do? Can you the? Is there someone theing outside the window right now? Can you summer? Do your obnoxious neighbors keep you up until 2 a.m. because they are summering? Can you my? What does a person do when she’s mying? Can you poodle? Show me what poodling is. Can you pant? Bingo! Sure you can! Run five miles and you’ll be panting. Can you and? Of course not! But can you drool? You bet—although we don’t need a demonstration of this ability. In the sentence above, therefore, there are two action verbs: pant and drool.

Know a linking verb when you see one.

Linking verbs, on the other hand, do not express action. Instead, they connect the subject of a verb to additional information about the subject. Look at the examples below:

Mario is a computer hacker.

Ising isn’t something that Mario can do. Is connects the subject, Mario, to additional information about him, that he will soon have the FBI on his trail.

During bad storms, trailer parks are often magnets for tornadoes.

Areing isn’t something that trailer parks can do. Are is simply connecting the subject, trailer parks, to something said about them, that they tend to attract tornadoes.

After receiving another failing grade in algebra, Jose became depressed.

Became connects the subject, Jose, to something said about him, that he wasn’t happy.

A three-mile run seems like a marathon during a hot, humid July afternoon.

Seems connects the subject, a three-mile run, with additional information, that it’s more arduous depending on the day and time.

At restaurants, Rami always feels angry after waiting an hour for a poor meal.

Feels connects the subject, Rami, to his state of being, anger.

The following verbs are true linking verbs: any form of the verb be [am, were, has been, are being, might have been, etc.], become, and seem. These true linking verbs are always linking verbs.

Then you have a list of verbs with multiple personalities: appear, feel, grow, look, prove, remain, smell, sound, taste, and turn. Sometimes these verbs are linking verbs; sometimes they are action verbs. Their function in a sentence decides what you should call them.

How do you tell when they are action verbs and when they are linking verbs? If you can substitute am, is, or are for the verb and the sentence still sounds logical, you have a linking verb on your hands. If, after the substitution, the sentence makes no sense, you are dealing with an action verb. Here are some examples:

Chris tasted the crunchy, honey-roasted grasshopper.

Chris is the grasshopper? I don’t think so! In this sentence then, tasted is an action verb.

The crunchy, honey-roasted grasshopper tasted good.

The grasshopper is good? You bet. Roast your own!

I smell the delicious aroma of the grilled octopus.

I am the delicious aroma? Not the last time I checked. Smell, in this sentence, is an action verb.

The aroma of the grilled octopus smells appetizing.

The aroma is appetizing? Definitely! Come take a whiff!

The students looked at the equation until their brains hurt.

The students are the equation? Of course not! Here, looked is an action verb.

The equation looked hopelessly confusing.

The equation is confusing? Without a doubt! You try it.

This substitution will not work for appear. With appear, you have to analyze the function of the verb.

Godzilla appeared in the doorway, spooking me badly.

Appear is something Godzilla can do—whether you want him to or not.

Godzilla appeared happy to see me.

Here, appeared is connecting the subject, Godzilla, to his state of mind, happiness.

Realize that a verb can have more than one part.

You must remember that verbs can have more than one part. In fact, a verb can have as many as four parts. A multi-part verb has a base or main part as well as additional helping or auxiliary verbs with it. Check out the examples below:

Rivqie spilled chocolate milkshake on Zakia’s new dress.

Because Rivqie is a klutz, he is always spilling something.

Rivqie might have spilled the chocolate milkshake because the short dress distracted him.

Rivqie should have been spilling the chocolate milkshake down his throat.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.